soal1Jakarta – Mendiknas Mohammad Nuh siap memberikan sanksi pada pembuat soal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VI SD di Sidoarjo yang “tersusupi” kalimat cabul. Sanksinya mulai dari peringatan hingga penurunan pangkat.

“Kita akan klarifikasi kepada pembuat soal itu. Ini tanggung jawab Dinas Pendidikan Kabupaten. Nanti setelah jelas perkaranya, apakah ini by design atau kesengajaan, akan dikenai sanksi,” kata Mendiknas.

Hal ini disampaikan dia di sela-sela acara National Summit, Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (30/10/2009).

Menurut dia, yang dikenai sanksi adalah si pembuat soal. “Kita teliti dulu perkaranya, sanksi bisa mulai dari peringatan sampai penurunan pangkat,” ujarnya.

Soal ujian Bahasa Indonesia yang bikin geger dunia pendidikan Sidoarjo adalah sebuah teks cerita berjudul “Pengusaha Bandel di Krangkeng Bareng Mak Erot.” Dari segi pemilihan materi yang menggunakan judul “Mak Erot”, jelas terasa ganjil. Apalagi dari struktur EYD, penulisan “di Krangkeng” jelas salah.

Belum lagi di alinea terakhir artikel itu bertuliskan kata-kata yang berbau cabul, bercampur bahasa Jawa. “Pengusaha nakal diucluk-ucluk, karo biasane dibalsem teronge…I Love U Full.” Sebagian sekolah menutupi kalimat cabul dengan stipo (T*p-X), namun ada juga yang tidak sempat.

Pejabat Dinas Pendidikan Sidoarjo telah memeriksa Edi, “guru teladan” yang membuat soal tersebut. Disebutkan, kelalaian itu tidak disengaja, karena Edi dikejar deadline membuat soal yang mepet dan sibuk menikahkan anaknya. Edi stres atas kasus ini dan sempat pingsan saat dimintai keterangan oleh atasannya.

(detik.com)