JAKARTA, KOMPAS.com – Ide dijadikannya hasil UN sebagai salah satu penilaian SNMPTN kiranya semakin “terang”, hanya saja masih membutuhkan upaya serius pemerintah dan berbagai pihak terkait, terutama soal kredibilitasnya.

Wacana tersebut dikemukakan oleh Ketua Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Haris Supratno di sela paparan program 100 hari kerja Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), di Jakarta, Jumat (6/11), oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh.

Haris mengatakan, sebetulnya wacana Ujian Nasional (UN) terintegrasi SNMPTN bukan hal baru. Wacana ini sudah dimunculkan sejak 2008 lalu oleh Mendiknas Bambang Sudibyo. Depdiknas merancang target, integrasi UN-SNMPTN dilaksanakan pada 2012 mendatang.

“Khususnya melihat hasil UN di SMA dan MA yang belum kredibel, masih banyak kebocoran di sana-sini,” ujar Haris.

Menurut Mendiknas Muhammad Nuh, integrasi UN-SNMPTN merupakan salah satu upaya Depdiknas berkaitan dengan Reformasi Birokrasi Pendidikan Jilid II di bawah kepemimpinannya. Polemik tentang UN, kata Nuh, tidak akan pernah selesai, karena masing-masing pihak yang pro dan kontra akan terus berpegang teguh pada pendiriannya.

“Yang tahu kualitas siswa itu adalah guru, ya sudah, serahkan saja kepada gurunya. Itu menurut mereka yang kontra, tetapi tidak akan begitu kalau menurut yang pro,” ujar Mendiknas.

Mendiknas bilang, saat ini yang paling penting dilakukan adalah membuat UN yang kredibel. Beberapa variabel untuk mencapai itu, kata Mendiknas, mulai dari substansi soal yang akan diujikan, kualitas pelaksanaan, serta model evaluasi semua perjalanan UN hingga akhir. Ketiga hal itulah yang tengah diupayakan oleh Depdiknas.

 

“sumber”